23.11.10

GF Gowes To Singapore 19 - 21 Nov 2010

Peserta :
Micky, Robert Liong, Santoso Yap, Ferry David, Henry “Boling” Suyono, Riva, Manli

Atas desakan dan intimidasi dari para Senior GF (karena saya paling Junior hehehehe), maka kali ini saya mencoba untuk menulis event GF Gowes ke Singapore. Tidak pernah terlintas sedikit pun dalam benak saya untuk bersepeda di luar negeri (khususnya Singapore) dengan membawa sepeda sendiri dari Jakarta. Bahkan beberapa Senior GF yang sudah pernah tinggal lama disana sekalipun tidak pernah bermimpi untuk bersepeda ria disana.

Ide gowes ke Singapore muncul seketika dari obrolan di group BB (baca BlackBerry). Salah satu member mengusulkan agar GF Go International. Pilihan jatuh ke Singapore karena selain dekat juga beberapa GF’ers sudah hafal seluk beluk jalan di Singapore. Setelah melalui diskusi yang sengit maka event ditetapkan tanggal 19-21 November 2010. Event ini menguras waktu dan pikiran karena baru pertama kali event GF dilakukan di luar negeri. Segala persiapan mulai dari tiket, akomodasi, track, cara packing bike, sampai jadwal dan lokasi wisata kuliner sudah dilakukan mulai dari bulan Agustus 2010. Awalnya event ini diikuti 10 orang, tetapi karena satu dan lain hal yang tetap berangkat tinggal 7 orang. Kalo biasanya disetiap event GF selalu mencari Fun (mencari kesenangan), Narsis (berphoto ria), dan Kuliner (makan-makan) maka kali ini ditambahkan Shopping (belanja-belanja). So.... saya mulai cerita perjalanan kami kali ini.

Hari pertama (Jum’at, 19 November 2010).
Jam 03:00 saya mulai bangun dan mulai coba contact satu persatu anggota via BB. Ternyata ada yang tidak tidur karena begitu semangatnya untuk ikut event ini. Setelah memastikan seluruh peserta sudah bangun maka saya berinisiatif sampai lebih awal di Bandara Soeta.

Jam 03:40 saya sudah sampai dan sambil menunggu peserta yang lainnya saya mencoba menghubungi Ferry Badak. Takut dia kembali tidur setelah saya bangunkan. Namun kekhawatiran saya tidak terbukti karena Ferry orang kedua yang sampai setelah saya. Tak lama berselang satu persatu peserta sampai, lengkap dengan peralatannya masing-masing. Setelah check in, kami sarapan pagi dulu (biasa cari yang gratisan di Starbuck dan Airport Lounge) setelah itu terbanglah kami semua ke Singapore.
Setelah sampai apartemen kami langsung setting bike. Nah… disini tampak packing bike Ferry Badak begitu rapi diantara peserta yang lain. Dengan dibantu Riva (Dr. Scott) maka satu persatu bike selesai disetting dan setelah itu beberapa peserta mulai beristirahat.

Sesuai kesepakatan maka acara gowes kami mulai pukul 19:00. Rute gowes dimulai dengan mengunjungi Zion Food court. Sepanjang perjalanan kami begitu terkesan dengan halusnya jalan raya Singapore. Santoso yang awalnya mengajak kita santai, secara spontan langsung memacu road bikenya diikuti Micky dan Robert. Saya dan Ferry terpaksa memacu juga agar tidak tertinggal jauh.

Kurang dari 20 menit akhirnya kita sampai di Zion Food Court dan bisa ditebak semua sibuk memilih counter untuk memilih menu.

Setelah kenyang rute dilanjutkan ke tempat temannya Boling untuk mengambil bike. Nah saat itu kami sangat beruntung karena temannya Bro Boling, Si Glenn Marron mau menjadi guide kami. Maka diajaklah kami menuju Mount Faber Park. Dari namanya kita bisa tahu jalannya uphill terus. Makanya jangan bilang kalo di Singapore jalannya cuma datar-datar aja. Karena yang gowes udah lulus Curug Panjang semua alias True GF maka tanjakan ke Mount Faber Park engga terasa berat.
Masuk ke Mount Faber Park, kami benar-benar terkesima dengan design Henderson Waves Bridge. Sesuai namanya, jembatan yang sebagian besar terbuat dari kayu ini, disalah satu sisinya didesign bergelombang sehingga jika dilihat dari kejauhan jembatan ini berbentuk gelombang air laut. Ditambah lagi dengan tata lampu yang begitu mengesankan dan kalo Mike Panda ikut pasti bilangnya “awesome dude” hehehehehehe. Karena hanya diperuntukan bagi pejalan kaki maka kami semua TTB alias Tuntun Bike untuk melewati jembatan tersebut. Oh ya menurut info, jembatan ini menghubungkan Mount Faber Park dengan Telok Blangah Hill Park. Tak lupa kami bernasis ria disini. Karena penampilan kami begitu mengesankan dengan Jersey GF, sampai-sampai kami diminta photo bersama dengan para gadis Vietnam. Hmmmm….. baru kali ini GF diminta photo bersama oleh bidadari cantik. Kata Ferry, “ternyata GF lebih populer di luar negeri ketimbang di Indo” hehehehehehe...
Selanjutnya kami sampai di Terrace Garden. Disini Ferry menuruni anak tangga yang menurut pengakuannya anak tangga terbanyak yang pernah dia turunin dengan bersepeda. Selepas Terrace Garden lagi-lagi kami dibuat begitu terkesima begitu melewati Jembatan Alexandra Trail. Berbeda dengan Henderson Waves, Alexandra Trail boleh dilalui dengan bersepeda. Jembatan sepanjang 1.3 KM ini berdiri ditengah-tengah hutan yang rimbun dan berkelok-kelok. Disini kita perlu hati-hati karena saya perkirakan tingginya 100 meter dari permuk aan tanah. Jadi kalo salah perhitungan sedikit saja bisa dibayangkan kita bisa terjun bebas. Sangat disayangkan kami mengunjungi tempat ini dimalam hari karena pemadangannya tidak begitu terlihat jelas karena gelap. Karena saya tidak fit malam itu maka kami memutuskan kembali ke apartemen dan sebelumnya kembali mampir ke tempat makan untuk mengisi perut.


Hari kedua (Sabtu, 20 November 2010)
kami sepakat untuk mulai gowes jam 16:00, alasannya karena cuaca mulai pagi hingga siang hari benar-benar tak bersabahat untuk gowes alias panas banget. Maka mulai pagi hari para peserta memulai acara masing-masing. Saya sendiri pergi ke daerah China Town untuk mencari Vegan Food. Peserta lainnya sudah memulai aktivitas shopping di sekitar Orchard.

Jam 13:00, saya dan Boling yang masih di apartemen dijemput perserta lainnya untuk mengunjungi Bike Shop di daerah Eunos- Ubi Avenue 3.
Nah… disini dimulailah kenekatan karena kami semua bertujuh naik mobil Santoso jenis sedan yang kapasitas maksimum diperbolehkan hanya 5 orang. Kecuali Ferry dan Santoso didepan, kami berlima duduk berdesakan dibelakang dengan dihantui rasa ketakutan ditilang polisi. Sepanjang perjalanan Micky mengeluh kesakitan karena tidak bisa duduk dengan nyaman. Riva menahan sakit karena kakinya tidak dalam posisi ideal. Boling duduk dengan seadanya. Robert harus memutar badanya miring 45 derajat. Saya sendiri sedikit beruntung karena duduk paling tengah sehingga masih bisa duduk dengan nyaman dibanding yang lain.

Setelah tegang disepanjang Orchard Road, kami kembali panik menjelang daerah Eunos karena di perempatan lampu merah, kami melihat ada patrol polisi di sisi depan dan kiri perempatan kami. Terpaksa Boling dan Micky menunduk dan sembunyi dibawah bangku. Untung patroli polisi tidak melihat kami. Setelah aman dari patroli polisi kami kembali dikejutkan karena didaerah Ubi Avenue 1 (2 blok menjelang bike shop) merupakan lokasi markas besar polisi lalu lintas Singapore. Sekali lagi kami beruntung tidak ada polisi yang berpatroli.

Selepas itu kami sampai di bike shop. Ada dua bike shop dengan kapasitas yang lengkap disana. Sebagai informasi tambahan, disana sedang dalam tahap persiapan dibuka bike shop ketiga dengan merek ternama. Adrenalin shopping semua peserta begitu terbakar. Ada yang beli sepatu, cleat, botol air atau sekedar cuci mata.
Harga barang di toko Singapore relatif lebih mahal dibandingkan di Indonesia. Jadi saya secara pribadi tidak menyarankan untuk belanja disini kecuali ada diskon besar atau barang yang dibeli unik (tidak ada di Indonesia).

Karena keasyikan berkunjung ke Bike Shop maka tanpa sadar waktu sudah menunjukan jam 17:00. Agar tidak ditilang, sebagian dari kami naik taksi untuk kembali ke Apartemen, sedang sebagian lainnya ikut mobil Santoso.

Sampai di apartemen semua jam 18:30. Khawatir tidak bisa menikmati pemandangan karena gelap maka kami sepakat untuk memulai kembali gowes jam 04:00 esok harinya dan acara kami ganti dengan wisata kuliner.

Atas rekomendasi Robert, maaf lebih tepatnya atas ajakan traktiran Robert, kami makan malam di Resto "Sek Wai Sin” didaerah Geylang – Lorong 15. Upssssss kita wisata kuliner lho bukan wisata yang lain. Disini kami benar-benar disuguhi makan dengan menu yang menurut semua peserta makyusssssssssssssssssss banget. Mengenai menu makanan saya tidak memberi komentar lebih banyak karena tidak ikut makan (maklum saya Vegie). Silakan Bro and Sis menanyakan langsung ke peserta lainnya. Namun dari raut wajah peserta terlihat jelas bahwa menu makanan di resto ini benar-benar berkualitas. Semua makanan dilahap habis sampai ludes padahal menurut saya makanan yang dipesan sangat banyak untuk ukuran 6 orang. Setelah selesai makan, kami berkeliling sebentar untuk melihat fenomena disana.

Kurang dari 20 menit kami kembali diajak, sekali lagi maaf, lebih tepatnya ditraktir oleh Santoso untuk menikmati duren di pinggir jalan. Ini buah duren beneran lho (please… buang jauh-jauh pikiran kotornya heheheheheheh). Duren disini diimpor dari Malaysia. Saya sendiri begitu terkejut dengan harga duren kualitas supernya (dibedakan dengan tanda merah dikulitnya). Harga satu Kilogramnya mencapai SGD 30 (kurang lebih IDR 210.000,). Setelah ditimbang, 3 butir Duren beratnya 5kg. Bisa dibayangkan harga 3 butir duren SGD 150 atau lebih dari IDR 1 juta.

Karena tahu harganya mahal, sebagian peserta yang awalnya tidak begitu tertarik untuk makan, penasaran untuk mencobanya. Duren yang kami beli ada 2 jenis, yaitu manis dan pahit. Atas rekomendasi si penjual, maka kami harus mulai makan yang manis dulu. Awalnya saya hanya ingin mencoba 1 biji saja. Begitu saya makan, duren tersebut begitu manis dan gurih dilidah. Isinya tebal dan bijinya kecil. Berbeda sekali dengan duren yang pernah saya makan. Karena begitu enaknya, hampir semua peserta makan lebih dari 1 biji.

Saya sendiri karena enaknya makan lebih dari 3 biji. Setelah itu saya mencoba duren yang rasanya pahit dan benar-benar luar bisa. Coba lihat saja ekspresi wajah Boling saat menikmati buah duren tersebut, najis tralala khan hehehehe. Setelah puas menikmati wisata kuliner kami kembali ke apartemen untuk beristirahat.

Hari ketiga (Minggu, 21 November 2010)
Jam 03:30, sedang asyik-asyiknya tidur, saya terkejut dibangunkan Robert. “Ayooo…. Jadi gowes engga, kalo engga gue tidur lagi nih”, begitu kata Robert. Dengan mata yang malas dibuka, saya coba keluar kamar dan melihat Boling asyik nonton TV di ruang tamu dengan tissue nempel dihidung karena meler. “Gue engga tidur nih” katanya.

Setelah siap-siap maka kami pun meluncur menuju Singapore Flyer di daerah Marina Bay. Disepanjang perjalanan kami bertemu dengan beberapa rombongan sepeda. Tata lampu jalan yang begitu indah kami jumpai disepanjang jalan menuju Singapore Flyer. Setelah narsis di Singapore Flyer, kami menuju Marina Brigde.

Nah lagi-lagi disini design dan tata lampunya benar-benar mengagumkan dan bisa ditebak semua peserta mupeng untuk narsis. Setelah puas, kami melanjutkan perjalan mengelilingi Singapore sambil berhenti di 7 Eleven untuk sarapan pagi.
Disepanjang jalan kami banyak menemui orang bersepeda walaupun tidak sebanyak seperti di daerah Sudirman – Jakarta saat Car Free Day (CFD).

Tanpa terasa kami pun akhirnya sampai di Sentosa Island. Untuk masuk ke tempat rekreasi ini kami harus membayar SGD 2 per orang. Disini kami mengunjungi Siloso Beach (hehehe tahu donk pemandangan pantai di Singapore) dan mencoba track sepeda disana. Setelah puas narsis dan bekeliling di Sentosa Island kami pun melanjutkan perjalanan kami mengelilingi Singapore.


Tanpa terasa waktu sudah menunjukan pukul 10:00 saat kami sampai kembali ke apartemen.
Setelah istirahat sejenak, kami pun mulai packing bike. Sambil menunggu waktu ke air port, beberapa dari kami ada yang melanjutkan acara shopping. Saya sendiri ditemani Ferry dan Micky jalan-jalan ke China Town untuk makan siang.

Akhirnya tepat jam 19:00 mobil jemputan datang dan bersiap-siaplah kami untuk pulang kembali ke Jakarta.

Sampai di Changi Airport sekitar jam 19:40. Wah… masih lama nih, khan pesawat take off jam 22:10, bisa makan and shopping lagi pikir kami semua. Pas check in bagasi untuk bike terjadilah apa yang dinamakan pemborosan tidak pada tempatnya. Sekedar informasi tambahan untuk bagasi bike masuk kategori Sport Equipment. Perhitungan biayanya berbeda dengan bagasi biasa. Saat kami berangkat dari Jakarta, untuk Bagasi Bike kami hanya dikenakan IDR 150.000,- per bike tanpa memperhitungkan beratnya. Nah… karena kami pikirnya sama, maka saat pulang kami memasukan semua barang belanjaan dan baju kotor, sepatu, pokoknya apapun kedalam dus (tas) untuk packing bike. Pikir kami khan sudah bayar untuk bagasi bike jadi sekalian aja biar engga bayar lagi untuk bagasi barang dan bawa tas ke kabin jadi enteng.

Namun saat check in kita dijelaskan bahwa untuk bike baggage kita harus membayar SGD 25 untuk 15 kg pertama dan SGD 9 per kg untuk setiap kelebihan. Alhasil kita harap-harap cemas begitu ditimbang. Saya sendiri hanya kelebihan 2 kg karena tidak memasukan barang bawaan saya selain sepatu. Robert lumayan banyak karena sebagian barang belajaannya dimasukan ke tas sepeda. Ferry yang paling banyak excess baggage. Dengan bike Fire Bird, ditambah baju kotor, tools kit, dus sebesar badan dia (butuh 2 orang untuk mengangkatnya), maka excess baggage-nya mencapai 12 kg. Kalau dihitung biaya bagasi untuk sepedanya Ferry mencapai SGD 133 (IDR 931.000) lebih mahal dari harga tiket PP-nya yang tidak lebih dari IDR 800.000,-.

Pelajaran berharga bagi kami untuk selanjutnya adalah sebagai berikut :
1. Jika membawa sepeda, sebaiknya tidak naik value air seperti Air Asia karena tidak ada bagasi. Jika tidak sebaiknya beli bagasi barang diawal karena harga berbeda dengan di counter. Menurut info Boling, untuk bagasi sepeda tidak bisa dibeli diawal karena yang bisa menentukan kategori bagasi untuk barang bawaan kita hanya petugas counter.
2. Pedal, tools kit, kalo perlu fork, baju (ini apalagi) jangan dimasukan ke tas atau dus sepeda. Masukan ke tas yang bisa dibawa ke kabin karena gratis. Intinya bikin se-ringan mungkin tas atau dus sepedanya.
3. Tanya ke maskapai penerbangan terkait untuk bagasi sepeda, dikhawatirkan masing-masing maskapai mempunyai regulasi sendiri mengenai bagasi sepeda.
4. Terakhir gunakan frame dan part sepeda yang ringan. Untuk yang satu ini silakan konsultasi dengan Riva (Dr. Scott) hehehehehehe. Dengan demikian kita tidak perlu membayar excess baggage.

Luar biasa event GF kali ini. Mungkin dalam hidup saya belum tentu bisa saya kembali gowes seperti ini lagi. Banyak pengalaman dan kisah selama 3 hari bersama yang bisa jadi cerita ke anak cucu kelak.

Go GF... Livestrong…

Buat saya “Bersama GF gowes terasa begitu nikmat”

Note :
Tahun depan kita berencana untuk kembali Go Intenational dengan mengunjungi Thailand, Malaysia atau Vietnam.

Ada yang berminat ikut, silakan menghubungi kami.

Untuk foto lainnya silahkan klik disini

Tas Sepeda bisa di beli di http://www.sepeda98.com/

5 comments:

  1. Mantap manli, keep LIVESTRONG ^^v

    ReplyDelete
  2. boleh juga lo, bisa jadi official reporter GF dah.... tooooppp Man !!!!! informatif n enak dibaca !!

    ReplyDelete
  3. wah ini cita-cita saya yang belum kesampaian, kapan ada lagi om....boleh ikut nggak....

    salam
    anang
    www.tracksepeda.com

    ReplyDelete
  4. thank U Bro cerita cycling di S'porenya

    ReplyDelete